Aku masih ingat autotext blackberry messenger yang sering dia berikan, autotext "puk puk". Favorit aku juga
Aku
masih ingat dia menerangkan tentang sejarah salah satu rumah makan yang namanya
unik, pun masuh ingat saat dia bilang
“duh
pelit banget makan untuk satu kali makan dipake buat 3 kali makan”
“iya
kamu gak makan nasi, tapi ngemilnya banyak”
“aku
dulu bosen sekolah TK, abis nyanyi nyanyi doang”
“aku pernah tidur di lantai kereta api”
“mau
nyobain makananku?”
“udah
sembuh”
“sekarang
gimana udah baikan”
“aku lebih suka masa-masa SMP daripada masa
SMA”
“udah gausah bayar, lain kali aja
kamu yg traktir aku”
“cantikan mbak merry riananya tuh”
“kamu suntuk, mau jalan jalan?”
“boleh kok kalo mau dibaikin
seterusnya”
“percaya aja aku nggak kayak yang di
media social”
”siap teteh”
“ujan-ujanan aja”
”aku abis ini cabut kuliah”
”ini teman bogor aku, dulu dia
gendut”
“kamu gak lupa bawa jas ujan kan?”
”buku ini ceritanya….”
”nonton bioskop apa ke konser HiVI?”
“mau kepo banget?”
”awas ada yang menumpuk (lemak)”
“udah malem ati ati”
”mau ditemenin?”
”bacanya jangan serius-serius amat ah
(baca novel pertamanya) ”
banyak deh pokoknya….
Dari semua yang mencoba, kenapa yang
aku tanggapi : orang ini. Mungkin karena temannya tmena dekatku. Jadi aku
iya-in aja. (awalnya) || dari beberapa : selamat malam, solat
dulu, Cuma dari dia yang bikin aku senang (Akhirnya)
Entah mengapa semuanya aku dapat
ingat dengan jelas, Dia laki-laki yang jauh lebih tinggi daripada aku, jarinya
lebih panjang dari jariku, kurus tapi tidak tirus pipinya, kakinya yang kecil
sehingga aku sering iri dalam hati haha, sering memakai jaket/jamper, dan
bergigi gingsul yang kadang nyebelinnya parah yang bisa bikin aku sedih,
suaranya yang nggak medok kalo ngomong ke aku tapi pas nanyak jalan tibatiba
pake bahasa jawa, ekspresinya yang flat kadang aneh kadang lucu, bagaimana ia
tertawa, canda ku yang krik-krik bin jayus, candanya yang gak kalah jayus,
canda yang tidak kutanggapi, menceritakan game bola yang sama sekali tidak aku
mengerti, saat dia mau pakai helmku yang basah, sedangkan aku pakai helmnya
yang kering, senang dibonceng dia yang wangi sekali karena abis solat jumat,
nemenin aku makan padahal dia udah makan kayaknya (makanannya masih bersisa
banyak soalnya), saat dia bawain oleh oleh banyak, saat dia mau nemenin aku
belajar bahan alam, candaan saat hujan, masih banyak lagi.
Aku masih ingat semuaaaaanya dengan
jelas, tapi dia tidak pernah sama sekali. Cukup. Mengingatnya cukup sampai sini
saja. Akan lebih melegakan apabila terjalin hubungan yang tetap baik antara aku
dan dia. Seperti antara dia dengan teman temannya yang lain. Tapi keinginan
tidak bisa terwujud apabila cuma berasal dari 1 pihak saja, kan? Kecewa pasti.
Nangis boleh. Tapi secukupnya. Cukup sampai sini saja, ya.
Terimakasih yaa pernah menyempatkan
waktu-waktumu untuk waktu-waktuku.
Terimakasih yaa karena tanpa kamu
sadari aku sangat banyak belajar walaupun pada saat kita sudah berada di jalan
yang berseberangan, tidak lagi bersisian.


