Jumat, 20 Februari 2015

Mr. from LA part. II




Aku masih ingat autotext blackberry messenger yang sering dia berikan, autotext "puk puk". Favorit aku juga  

Aku masih ingat dia menerangkan tentang sejarah salah satu rumah makan yang namanya unik, pun masuh ingat saat dia bilang
“duh pelit banget makan untuk satu kali makan dipake buat 3 kali makan”
“iya kamu gak makan nasi, tapi ngemilnya banyak”
“aku dulu bosen sekolah TK, abis nyanyi nyanyi doang”
 “aku pernah tidur di lantai kereta api”
“mau nyobain makananku?”
“udah sembuh”
“sekarang gimana udah baikan”
 “aku lebih suka masa-masa SMP daripada masa SMA”
“udah gausah bayar, lain kali aja kamu yg traktir aku”
“cantikan mbak merry riananya tuh”
“kamu suntuk, mau jalan jalan?”
“boleh kok kalo mau dibaikin seterusnya”
“percaya aja aku nggak kayak yang di media social”
”siap teteh”
“ujan-ujanan aja”
”aku abis ini cabut kuliah”
”ini teman bogor aku, dulu dia gendut”
“kamu gak lupa bawa jas ujan kan?”
”buku ini ceritanya….”
”nonton bioskop apa ke konser HiVI?”
“mau kepo banget?”
”awas ada yang menumpuk (lemak)”
“udah malem ati ati”
”mau ditemenin?”
”bacanya jangan serius-serius amat ah (baca novel pertamanya) ”
banyak deh pokoknya….

Dari semua yang mencoba, kenapa yang aku tanggapi : orang ini. Mungkin karena temannya tmena dekatku. Jadi aku iya-in aja. (awalnya) || dari beberapa : selamat malam, solat dulu, Cuma dari dia yang bikin aku senang (Akhirnya)
 
Entah mengapa semuanya aku dapat ingat dengan jelas, Dia laki-laki yang jauh lebih tinggi daripada aku, jarinya lebih panjang dari jariku, kurus tapi tidak tirus pipinya, kakinya yang kecil sehingga aku sering iri dalam hati haha, sering memakai jaket/jamper, dan bergigi gingsul yang kadang nyebelinnya parah yang bisa bikin aku sedih, suaranya yang nggak medok kalo ngomong ke aku tapi pas nanyak jalan tibatiba pake bahasa jawa, ekspresinya yang flat kadang aneh kadang lucu, bagaimana ia tertawa, canda ku yang krik-krik bin jayus, candanya yang gak kalah jayus, canda yang tidak kutanggapi, menceritakan game bola yang sama sekali tidak aku mengerti, saat dia mau pakai helmku yang basah, sedangkan aku pakai helmnya yang kering, senang dibonceng dia yang wangi sekali karena abis solat jumat, nemenin aku makan padahal dia udah makan kayaknya (makanannya masih bersisa banyak soalnya), saat dia bawain oleh oleh banyak, saat dia mau nemenin aku belajar bahan alam, candaan saat hujan, masih banyak lagi.

Aku masih ingat semuaaaaanya dengan jelas, tapi dia tidak pernah sama sekali. Cukup. Mengingatnya cukup sampai sini saja. Akan lebih melegakan apabila terjalin hubungan yang tetap baik antara aku dan dia. Seperti antara dia dengan teman temannya yang lain. Tapi keinginan tidak bisa terwujud apabila cuma berasal dari 1 pihak saja, kan? Kecewa pasti. Nangis boleh. Tapi secukupnya. Cukup sampai sini saja, ya.

Terimakasih yaa pernah menyempatkan waktu-waktumu untuk waktu-waktuku.
Terimakasih yaa karena tanpa kamu sadari aku sangat banyak belajar walaupun pada saat kita sudah berada di jalan yang berseberangan, tidak lagi bersisian.

Sekarang kita telah berada di persimpangan yang berbeda dengan keadaan yang insyaAllah lebih baik. Selamat meniti cita masing-masing. Selamat melanjutkan kisah masing masing dan pada akhirnya bertemu pada yang bisa menyempurnakan satu sama lain. Bertemu pada rumah masing-masing.

Sabtu, 17 Januari 2015

Mr. from LA part. I



Entah bagaimana aku masih ingat semuanya, yang tejadi pada waktu itu. Pada bulan berapa dia mulai mengusik kehidupanku. Dia mulai mengusik melalui media social, dan dengan beberapa pertimbangan, aku tanggapi. Berlanjutlah ke chat. Hanya chatting biasa. Bila saja ada teori seandainya, seandainya dia datang di saat yang tepat. Manusia dengan kebaikan seperti ini pasti akan kupertahankan, sayangnya waktu itu waktunya tidak tepat

Aku masih ingat judul film pertama yang kami tonton. Di bagian mana dia serius,dan pada bagian apa gelak tawanya meledak.

Aku masih ingat makanan yang ia pesan setelah kita nonton pertama. Dia tambah lauk telor asin, aku tidak. Aku pake kerupuk, dia tidak. Entah bagaimana otak ini berkonspirasi dan mebuatku mengingatnya dengan sangat baik.

Aku masih ingat kali pertama ia menjemputku dari stasiun pukul enam pagi, padahal kuliahnya mulai pukul 7. Dia sudah stay di tempat duduk stasiun sebelum pukul enam dan membawakanku helm juga. Yang pada akhirnya aku tau, dia paling malas kuliah pagi.

Aku masih ingat betapa repotnya ia meninggalkan kampus untuk mencarikanku makan kemudian mengantarkannya ke kosanku agar penyakitku tidak bertambah parah.

Aku masih ingat ekspresi mukanya pada saat itu, muka yang penuh dengan keringat karena terkena serangan terik matahari Surabaya. Aku masih ingat dia bersedia skip kuliah untuk menemaniku ke Rumah Sakit untuk berobat. Dia mencarikanku puskesmas karena tidak kunjung sembuh, dia mencarikan alamat rumah sakit rujukan perusahaan papah. Antara dia memang malas untuk hadir di perkuliahan, atau memang mau menemaniku. Hahaha. Dasar orang suka bolos.

Aku masih ingat kata-kata penyemangat yang ia berikan, meskipun katanya, ia juga tidak sesempurna itu. Aku masih ingat kejayusan candanya yang benar-benar jayus tentang jembatan layang. Aku masih ingat bisikan “traffic.. traffic..” khas yang ia ucapkan pada saat macet mau masuk bioskop

Aku masih ingat dia bilang tidak bisa tidur karena kepikiran aku masih marah dengannya. Blackberry Messenger yang tidak aku balas. Iya, waktu itu sebel. Marah karena hal yang benar-benar sepele. Malu sendiri kalo diingat-ingat. Dia bilang tidak bisa tidur. Antara memang kepikiran atau lagi sibuk mengerjakan sesuatu. Ada ada saja alasannya.

Aku masih ingat pada saat kita melewati jalanan yang benar-benar sepi dengan lampu yang tidak begitu terang. Dia menenteng motor yang pada saat itu ban belakangnya bocor hingga ke tambal ban terdekat. Terdekat tapi tidak bisa dibilang dekat. Jujur aku sangat takut ada orang mabuk, pencuri, dan banyak kemungkinan terburuk yang aku fikirkan saat itu. Tetapi kata-katanya mampu membuatku menjadi lebih tenang, “makanya aku pilih jalan yang sebelah sini, daerah perumahan warga. Kalo ada apa-apa, teriak, bisa jadi aman.” Tapi nampaknya, dia juga sempat khawatir. Dia ingin menelfon taksi untukku, aku menolak, dia terus memaksa, terus begitu. Sampai akhirnya aku diam dan dia tidak memaksa lagi. Aku benar-benar takut. Jantungku berdebar keras. Tapi takutku dikalahkan ke-gaktega-an ku kalo ninggalin dia seorang diri di jalan yang gelap ini. Aku gak mau ninggalin dia sendiri walaupun aku sedang takut-takutnya. Cie banget! Setelah kami menemukan tambal ban, tangannya bergetar hebat karena menuntun motor tidak berhenti sejauh itu. Kenapa nggak minta berhenti kalo capek? Wakakaak. Ngakak dam hati! Akhirnya sebotol air mineral habis oleh kami berdua.

Aku ingat juga bagaimana aku sulit memejamkan mata saat dia bilang mau ke Bromo naik motor. Tentu saja bersama dengan teman dari kampusnya yang lama yang di daerah barat. Naik motor. Aku waktu itu belum pernah ke bromo jadi nggak tau medannya. Apakah dia sudah sampai dengan selamat? Aku sangat kepikiran. Pertama kalinya mengkhawatirkan orang sampai tidak bisa tidur. Walaupun sebal karena dia perginya dengan teman wanitanya.

Aku masih ingat mengajakku ke komunitasnya di kafe deket SMA 5 dan bertemu dengan teman-temannya yang udah kerja, tapi baik. Aku canggung dan nggak nyambung dengan obrolan mereka, tapi waktu itu aku senang.

Aku masih ingat dia mengajakku melihat matahari terbit dipenghujung tahun, dia menyuruhku untuk bangun pagi, dan dia juga bakalan bela-belain bangun subuh walaupun dia baru tidur dua jam. Tapi karena aku bangun kesiangan, akhirnya nggak jadi.