Sabtu, 08 Oktober 2016

5 Tahun di Surabaya


5 tahun itu  terasa cepat sekali berlalu, ya... pikirku sambil memandang padatnya jalan raya ke luar kaca mobil. Kulihat kebelakang melalui kaca spion mobil. Barang-barangku memenuhi pick-up yang aku naiki. Kamarku kosong, tiada yang tersisa. Entah mengapa berat sekali rasanya untuk percaya kalau hari ini adalah hari terakhir aku tinggal di sini....
            Di tahun awal kuliah, pertama kali keluar dari pulau Kalimantan dan stau, tampil apa adanya, dengan logat bontangku yang kental, aku bodo amat. Memakai baju yang sudah kuanggap cukup gaul, di kala itu, setidaknya sudah gaul di Kota domisiliku tercinta, Bontang. Menjalankan praktikum yang bagiku amat susah. Bagaimana tidak? Nama-nama alatnya saja aku baru tahu pada saat akan mulai praktikum. Berbeda pehitungan 0,01 saja nilai bisa beda jauh. Ya memang harus begitu, di masa depan tanggung jawab kami adalah sebuah NYAWA. Neraka sekali farmasi Unair bagiku. Selain itu, harus ada skill yang dimiliki, bila kamu menjadi anak rantau, yaitu “skill” mengontrol keuangan, mulai memilah mana yang butuh dan ingin, mulai menganut prinsip, kalo ada yang lebih murah? Kenapa engga :))
            Hari demi hari, aku belajar banyak. Apa yang kita lihat baik, belum tentu semanis rupanya.  Yang terlihat buruk, belum tentu jahat padamu. Hanya Berujung kecewa, bila awalnya kau berharap pada manusia, pasrahkan semua pada Nya. Setidaknya bila kau pasrah padaNya, kau tidak akan kecewa seperti berharap pada manusia yang hatinya gampang terbolak-balik. Karena kau tau, DIA tau segalanya, termasuk yang terbaik bagimu. Diharuskan menjadi kuat untuk menghadapi masalah tentang perkuliahan, dosen, akademis, ataupun masalah perasaan :)) Selalu ada masalah, karena memang ia bagian dari kehidupan itu sendiri. It depends, bagaimana kita menghadapinya. Mau menyerah atau hadapi? Itu pilihan. Tapi ingat, everyone has their own life’s problem. Pilihannya, hadapi atau menyerah. Hadapi, maka level kekuatan dan kesabaranmu diuji, dan begitu masalah selesai maka kesabaran dan kekuatanmu akan naik tingkat 1 level dari sebelumnya. Menyerah pun pilihan. Tapi ingat, masalah akan datang kembali. Dan tidak semua orang memilih untuk menyerah, apa mau tertinggal di level yang sama, sedangkan yang lain memilih untuk naik level 1 tingkat?
            Tahun-tahun selanjutnya di Surabaya; terasa begitu cepat. hari-hariku dipenuhi dengan praktikum dan tugas. Datang ke kampus lebih awal dibandingkan matahari, pulang pun matahari sudah berganti tugas dengan bulan jadi makanan sehari-hari. Mulai keliatan ego asli masing masing atau bahkan egonya sudah hilang. Di tengah kehectican tugas yang seabrek, di tambah belum sempat sarapan, emosi yang sulit terkontrol itu wajar, di antara kami. Pintar-pintar saja membawa diri. Di tahun terakhir pula, beberapa yang jauh mendekat, pun yang dekat menjauh. Pola pikir berubah, cara menghadapi masalah berubah, pun gaya hidup. Semua akan terseleksi dengan sendirinya. Bukan, bukan kita yang berubah, kita hanya mengadjust diri kita terhadap lingkungan sekitar kita.
            Prinsip yan dianut adalah work hard play hard, aku dan beberapa yang lainnya pun tidak jarang keluar dari kehidupan kampus. Menonton film di tengah-tengah jurnal yg seabrek, mendatangi konser penyanyi favorit di sela-sela diskusi, pergi wisata alam di sempitnya waktu bikin sediaan semisolida, berbelanja, bahkan hahahihi aja di kosan ataupun di tampat penyetan langganan sudah meringankan tekanan di kepala, bahagia sekali rasanya. 
              Lima tahun di surabaya, Tidak akan cukup rasanya bila ditulis semua. Terlalu banyak pelajaran yang didapati, terlalu banyak kebodohan yang dapat ditertawai, terlalu banyak hal kecil yang dapat direnungi, terlalu banyak tempat yang dapat membangkitkan memori, dan terlalu banyak kisah manis yang dapat di resapi.
Terima kasih Surabaya, telah kubiarkan aku mencicipi bagaimana kerasnya kehidupan di sana, walaupun tidak sedikit pula yang berhati peri, menyenangkan hati, dan memberi inspirasi.
Bau kenangan yang menguar di setiap sudut kotanya, seolah mensugesti otak untuk memutarnya kembali. Kalau diijinkan, bolehkan menetap lagi nanti, barang dua atau tiga tahun lagi? 



Ditulis 4 Oktober 2016

Jumat, 15 April 2016

Beruntung di Kota Malang

Halo (again) Malang!
            Iya, gua disini lagi. Tapi dengan keadaan yang berbeda, gua sekarang udah sarjana. S. Farm, Sarjana Farmasi yang sering banget dipelesetin jadi sarjana farm(ville), peternakan lah apalah…. Selama di Malang, jalan-jalan, ditambah Malang lagi ujan-ujannya, jadi kayak ingatan gue keputer lagi gitu, hehehe. Ingatan gua langsung kayak langsung menembus waktu ke 4 sampai 5 tahun yang lalu. Saat pertama kalinya gua merantau yang jauhnya sampai beda pulau meeenn sama orang tua gua, waktu itu umur gua 17 tahun. Cewe sama temen-temen gua juga, gak ada yang cowok, dan merantau di kota gak ada yang lu kenal dan sedikit pun lu gak tau tentang kota itu. Lu kangen sama ortu juga gabisa langsung temu gitu aja, mesti nyebrangin Laut Jawa banget.
            Kebetulan  kosan gua sekarang gak jauh letaknya sama kosan gua dulu pas jaman-jaman nyari tempat kuliahan, pas bimbel GO buat SBMPTN (soalnya dulu Bontang belum ada). Sengaja gua muter-muter sendiri di Malang naik motor, gua muter muter sambil sedikit nostalgia.  Ada kosan gua yang dulu buset ternyata serem amat yak, gelap. Kosan gua, ibu kosnya baik banget, begitu pula dengan mbak Tik yang tiap hari masakin kita, yang mau bikinin apa aja yang kita minta kecuali kalo udah ribet banget baru mbak Tik gak mau hehehe. Di depannya ada warung nasi tempat gua pertama kali makan siang pas pertama kali nyampe malang dulu sama ira, jalanan yang mau ke tempat bimbel gue susurin, masih kayak dulu, pohonnya rindang, besar dan tinggi, di pinggir jalannya banyak mas mas yang jualan cilok, crepes, banyak pokoknya. Indomaret yang jadi tempat belanja gua dulu, masih ada. Jalan tikungan tajam di Jalan Pattimura. Soto ambengan yang dari dulu sepi, sekarang pun masih. Gua ingat itu jalan dulu sering gua lewatin sama irak sama anak anak kosan lain, sambil becanda, alay, jalanan itu juga jadi saksi gua pernah sambil nelfon papah sambil nangis, karena masih bingung milih jurusan apa di saat-saat terakhir. Tentu aja papah gak tau kalo gua sampai nangis. Gua juga sempat liat tempat biasanya kita nyetopin angkot buat nyari hiburan ke Matos tiap hari Minggu. Harus buru-buru pulang jam delapan malam karena kalo ngga bakalan susah dapet angkot. Gua liat Mekdi trus gua ingat sempet nangis malem malem di pinggir jalan sebrang mekdi karena H-1 pulang, dompet gua beserta isi-isinya ilang.   Gua juga liat tempat bimbel gua, GO Pattimura, tempat tiap hari gua ke tempat itu, sampe bener bener jenuh dan mabok banget gua kesana, tapi gua paksa. Disitu gua juga istirahat jajan seadanya, makan cilok yang meler-meler gitu. Gua ingat betapa kerasnya perjuangan gua buat dapetin satu bangku aja di farmasi unair, walaupun awalnya gak 100 persen gua pingin.  Gua ingat banget betapa istiqomahnya gua, ibadah gua, waktu itu. Sampe gua ngebelain buat merantau kesini, yang merupakan sebuah langkah besar suatu keputusan, seenggaknya bagi gua, anak kemarin sore yang baru kelar buat SIM.  Seneng ngingatnya karena keringat gua akhirnya berbuah manis.
       Gua jadi berfikir ulang, kalo memang semua skenario ini udah disiapkan Allah buat gua, dikemas dengan semanis ini sampai kadang suka nangis, bersyukur karena gua ngerasa Allah sesayang itu sama gua. Alasan-alasan kenapa gua gak disini apa disitu, kenapa gua dari dulu nggak begini, gua bersyukur sama apa yang gua dapet sekarang, bersyukur sama orang orang yang masih betah stay ama gua dari d ulu sampesekarang, atas semua yang tidak gua inginkan, gua rasa akhirnya gua tau karena memang jawabannya itulah yang paling baik buat gua. 


ditulis di Malang, 3 April 2016
Full of Blessed
Ajeng Janani