Selasa, 03 April 2018

25 tahun di 2018

25 tahun, sengaja dari bulan lalu aku rencanakan untuk aku habiskan bersama orang orang yang aku sayangi di rumah. Tidak, aku tidak mengharapkan kejutan. Rasanya ingin saja berkumpul dengan yang aku sayangi sudah cukup. Lima kali di hari pergantian umur aku lewatkan tanpa mereka. Tahun ini, ku inginkan berbeda selagi bisa. Halo yang kusayangi, aku bisa pulang.
Di hari itu, aku sibuk dari jam 6 pagi. Mengurus ktp yang hilang, ke pak RT, ke pak camat, ke discapil, lalu mengurus SIM. Lelah. Menjelang tengah hari, baru sampai di rumah.
Seharian bersama atri, dia tidak mengucapkan apapun, kesal tapi yaudah.

Hari itu hari senin, tepat waktunya buka puasa bagi orang- orang rumah. Tidak disangka, sewaktu jam buka puasa diberi kejutan. Terimakasih kue dan  rangkaian nasi kuningnya. Terimakasih papa, ibu, atri, bude, dan lina atas persiapannya, katanya mendadak.. 

Papaku, tidak mengucapkan kata yang manis, tapi aku tau disetiap solat 5 waktu, duha, dan tahajjudnya namaku tidak pernah absen untuk disebut. Walau kasihku tidak sebanyak dia, (bukan karena sedikit, tapi kasihnya memang tak ada yang menandingi) tapi aku tetap sayang. Aku sama sepertinya, tidak pandai mengucap kata kata yg manis.

Dan teruntuk mama, tidak apa apa, tidak membuatkan apapun seperti biasanya. Aku tau banyak hal yang harus diurus. Aku tau kita sudah tidak tinggal serumah sejak aku kecil. Tapi jangan khawatir, karena tidak ada yg bisa menggantikan.

15 Januari, hari bahagia, terharu, sedih semua campur aduk.

Sekali lagi terimakasih, pilihanku tepat untuk pulang. 
Doa kalian, yang membuat bisa sampai detik ini, sejauh ini, dan sekuat ini. 

Salam dari anak sulung yang berada di tanah rantau.



Ajeng.