Jadi, sudah yang keberapa kalinya setelah melewati saat-saat sulit, masa-masa yang (awalnya kamu pikir) tidak enak, Jeng? dan pada akhirnya kamu berfikir. Oh jadi maksudNya seperti itu?
Kemudian kamu bersyukur.
Sudah berapa banyak momen dimana :
Seketika kamu menoleh kebelakang, menyadari ternyata saya mampu juga melewati semua ini dan saya..... berhasil melakukannya.
Semua seperti rangkaian skenario yang memang telah disusun rapi oleh Dia Yang Mempunyai Skenario. Terdapat benang merah, antara yang satu dengan yang lain. Ternyata waktu kemaren dihadapkan dengan sejumlah masalah yang belum ada apa-apanya dibandingkan sekarang. Ternyata kemaren saya diberi masalah yang masih bisa dibilang "sedikit" rupanya. Agaraku lebih kuat, lebih tangguh, lebih mandiri, lebih bisa mengambil tindakan kemudian banyak bersyukur karena diberi masalah seperti hari yang sudah-sudah. Allah sayang aku.
Contoh paling konkrit. Aku pernah bersyukur bahwa sesuatu hal yang (dulu saya mengira) buruk terjadi pada keluarga saya. Tuhan, kenapa saya? Kenapa bukan orang lain, di antara puluhan teman-teman saya?
Setelah beberapa tahun, perjalanan panjang, keadaan perlahan membaik. Dan saya mulai sadar, memang hal itulah yang terbaik. Bila tidak terjadi, hancur leburlah semuanya. :-)
Itu yang paling terasa.
Dan masih banyak hal terjadi lainnya....
Lalu, mengapa hari ini kamu mengeluh lagi?
Lalu, mengapa hari ini kamu su'udzhon lagi?