malang kali ini,
menghadirkan cerita berbeda;
bukan kabar diterima perguruan tinggi negeri bergengsi,
bukan berujungnya penantian sebuah pencarian mata pencaharian, maupun
bukan berita-berita sukacita dari beberapa teman dekat.
malang kali ini,
menawarkan kepahitan;
tentang ketidak adilan dari sebuah penilaian yang subjektif,
tentang pengambilan keputusan yang kurang apik,
tentang kenyataan yang selalu tidak sesuai dengan harapkan.
malang kali ini
memaksa untuk;
tetap tegak saat yang lain menjatuhkan,
tetap tegar saat rencana yang terpaksa hancur harus kita tata kembali,
tetap kuat saat realita berkata lain dan perlahan harus kita ikhlaskan.
dancing in the rain
Minggu, 05 Januari 2020
Selasa, 17 Desember 2019
sebaris pintaku
Bila hal-hal baik yang menyertai datang,
selalu minta pada-Nya jangan hilangkan kebaikan itu dariku
Bukan manusianya yg dimohon agar tetap tinggal
selalu minta pada-Nya jangan hilangkan kebaikan itu dariku
Bukan manusianya yg dimohon agar tetap tinggal
Karena manusia bisa pergi sewaktu-waktu
Di lain cerita,
Manusia bisa saja tetap tinggal
Tetapi, sifat baik yg ia bawa tiba-tiba berubah,
bahkan hilang.
Allah yang maha membolak balikkan hati, kita tidak pernah tau.
Manusia bisa saja tetap tinggal
Tetapi, sifat baik yg ia bawa tiba-tiba berubah,
bahkan hilang.
Allah yang maha membolak balikkan hati, kita tidak pernah tau.
ditulis di:
Malang, 23 Juli 2019
Selasa, 16 Juli 2019
tanya yang tak perlu jawab
Banyak tanya yang tak aku pahami mengenai cara berfikir dan bersikap di kehidupan orang dewasa.
Banyak faktor yang yang mempengaruhi hal tersebut: perbedaan latar belakang individu, visi dan misi hidup, dan prioritas hidup.
Ada yang berambisi mendapat jabatan yang diimpikan, ada yang mengejar materi dan hal itu sama sekali tidak salah.
Untuk mencapai visi tersebut, tiap individu memiliki misi masing-masing, seperti pepatah berkata "akan ada banyak jalan menuju Roma".
ada yang mendapat kepuasan dengan dipuji atasan.
ada yang mendominasi tanpa peduli benar atau salahnya, tetap ingin terlihat hebat
ada yang seakan malaikat, tetapi bila di belakang menjadi makhluk mengerikan
ada yang selalu tidak menyukai kita walaupun tanpa alasan sekalipun
ya, begitulah. Banyak lagi yang lainnya.
Hal tersebut terjadi ketika aku menginjak fase pertengahan dua puluh dan nampaknya memaksaku untuk lebih dan sangat amat lebih berhati-hati (bahkan terhadap orang yang baik ke kita sekali pun) tapi orang yang benar tulus, pada akhirnya akan terlihat.
Semakin lama semakin banyak tanya.
Semakin lama semakin sadar, kadangkala tanya itu tak perlu ada jawab
Kita tidak akan pernah menemukan jawabannya, dan tidak perlu kita cari.
Lebih baik fokus kepada hal baik lainnya.
Tidak kalah penting juga, bagaimana cara kita membawa diri terhadap orang tersebut, ya kan?
Ada yang berambisi mendapat jabatan yang diimpikan, ada yang mengejar materi dan hal itu sama sekali tidak salah.
Untuk mencapai visi tersebut, tiap individu memiliki misi masing-masing, seperti pepatah berkata "akan ada banyak jalan menuju Roma".
ada yang mendapat kepuasan dengan dipuji atasan.
ada yang mendominasi tanpa peduli benar atau salahnya, tetap ingin terlihat hebat
ada yang seakan malaikat, tetapi bila di belakang menjadi makhluk mengerikan
ada yang selalu tidak menyukai kita walaupun tanpa alasan sekalipun
ya, begitulah. Banyak lagi yang lainnya.
Hal tersebut terjadi ketika aku menginjak fase pertengahan dua puluh dan nampaknya memaksaku untuk lebih dan sangat amat lebih berhati-hati (bahkan terhadap orang yang baik ke kita sekali pun) tapi orang yang benar tulus, pada akhirnya akan terlihat.
Semakin lama semakin banyak tanya.
Semakin lama semakin sadar, kadangkala tanya itu tak perlu ada jawab
Kita tidak akan pernah menemukan jawabannya, dan tidak perlu kita cari.
Lebih baik fokus kepada hal baik lainnya.
Tidak kalah penting juga, bagaimana cara kita membawa diri terhadap orang tersebut, ya kan?
Selasa, 03 April 2018
25 tahun di 2018
25 tahun, sengaja dari bulan lalu aku rencanakan untuk aku habiskan bersama orang orang yang aku sayangi di rumah. Tidak, aku tidak mengharapkan kejutan. Rasanya ingin saja berkumpul dengan yang aku sayangi sudah cukup. Lima kali di hari pergantian umur aku lewatkan tanpa mereka. Tahun ini, ku inginkan berbeda selagi bisa. Halo yang kusayangi, aku bisa pulang.
Di hari itu, aku sibuk dari jam 6 pagi. Mengurus ktp yang hilang, ke pak RT, ke pak camat, ke discapil, lalu mengurus SIM. Lelah. Menjelang tengah hari, baru sampai di rumah.
Seharian bersama atri, dia tidak mengucapkan apapun, kesal tapi yaudah.
Hari itu hari senin, tepat waktunya buka puasa bagi orang- orang rumah. Tidak disangka, sewaktu jam buka puasa diberi kejutan. Terimakasih kue dan rangkaian nasi kuningnya. Terimakasih papa, ibu, atri, bude, dan lina atas persiapannya, katanya mendadak..
Papaku, tidak mengucapkan kata yang manis, tapi aku tau disetiap solat 5 waktu, duha, dan tahajjudnya namaku tidak pernah absen untuk disebut. Walau kasihku tidak sebanyak dia, (bukan karena sedikit, tapi kasihnya memang tak ada yang menandingi) tapi aku tetap sayang. Aku sama sepertinya, tidak pandai mengucap kata kata yg manis.
Dan teruntuk mama, tidak apa apa, tidak membuatkan apapun seperti biasanya. Aku tau banyak hal yang harus diurus. Aku tau kita sudah tidak tinggal serumah sejak aku kecil. Tapi jangan khawatir, karena tidak ada yg bisa menggantikan.
15 Januari, hari bahagia, terharu, sedih semua campur aduk.
Sekali lagi terimakasih, pilihanku tepat untuk pulang.
Doa kalian, yang membuat bisa sampai detik ini, sejauh ini, dan sekuat ini.
Salam dari anak sulung yang berada di tanah rantau.
Ajeng.
Kamis, 19 Januari 2017
Malam, awal Januari 2017
Aku memang orang yang hati-hati, ya sehati-hati itu. Bila kau tau.
Terutama masalah hal perasaan.
Beberapa, lihai dalam menggencarkan "senjata”. Tapi kau harus tau aku cukup berbakat dalam membubarkan barisan pemegang senjata itu.
Terlepas dari maksudmu berusaha untuk selalu terlihat begitu manis. Ya, nampaknya kepercayaanku mengenai hal baik yang benar benar berasal dari hati akan sampai juga ke tempat yang dituju;yaitu hatiku, berlaku saat ini.
Kamu mengakui mengambil jarak beberapa hasta untuk mendekat, murni kesalahanmu.
Tidak lebih dari pemenuhan sebuah tingginya ego.
Aku amat mengerti.
Tapi pertanyaanku, apakah kamu mengerti, bahwa sampai saat ini kamu masih nampak sama manisnya seperti malam itu?
Terutama masalah hal perasaan.
Beberapa, lihai dalam menggencarkan "senjata”. Tapi kau harus tau aku cukup berbakat dalam membubarkan barisan pemegang senjata itu.
Terlepas dari maksudmu berusaha untuk selalu terlihat begitu manis. Ya, nampaknya kepercayaanku mengenai hal baik yang benar benar berasal dari hati akan sampai juga ke tempat yang dituju;yaitu hatiku, berlaku saat ini.
Kamu mengakui mengambil jarak beberapa hasta untuk mendekat, murni kesalahanmu.
Tidak lebih dari pemenuhan sebuah tingginya ego.
Aku amat mengerti.
Tapi pertanyaanku, apakah kamu mengerti, bahwa sampai saat ini kamu masih nampak sama manisnya seperti malam itu?
Sabtu, 08 Oktober 2016
5 Tahun di Surabaya
5 tahun itu terasa cepat sekali berlalu, ya... pikirku
sambil memandang padatnya jalan raya ke luar kaca mobil. Kulihat kebelakang
melalui kaca spion mobil. Barang-barangku memenuhi pick-up yang aku naiki. Kamarku kosong, tiada yang tersisa. Entah
mengapa berat sekali rasanya untuk percaya kalau hari ini adalah hari terakhir
aku tinggal di sini....
Di
tahun awal kuliah, pertama kali keluar dari pulau
Kalimantan dan stau, tampil apa adanya, dengan logat bontangku yang kental, aku bodo
amat. Memakai baju yang sudah kuanggap cukup gaul, di kala itu, setidaknya
sudah gaul di Kota domisiliku tercinta, Bontang. Menjalankan praktikum yang bagiku amat susah. Bagaimana tidak? Nama-nama
alatnya saja aku baru tahu pada saat akan mulai praktikum. Berbeda pehitungan 0,01 saja nilai bisa beda jauh. Ya memang harus begitu, di masa depan tanggung jawab kami adalah sebuah NYAWA. Neraka sekali
farmasi Unair bagiku. Selain itu, harus ada skill yang dimiliki, bila kamu menjadi anak rantau, yaitu “skill” mengontrol keuangan,
mulai memilah mana yang butuh dan ingin, mulai menganut prinsip, kalo ada yang
lebih murah? Kenapa engga :))
Hari demi hari, aku belajar banyak. Apa yang kita lihat baik, belum tentu semanis rupanya. Yang terlihat buruk, belum tentu jahat padamu. Hanya Berujung kecewa, bila awalnya kau berharap pada manusia, pasrahkan semua pada Nya. Setidaknya bila kau pasrah padaNya, kau tidak akan kecewa seperti berharap pada manusia yang hatinya gampang terbolak-balik. Karena kau tau, DIA tau segalanya, termasuk yang terbaik bagimu. Diharuskan menjadi kuat untuk menghadapi masalah tentang perkuliahan, dosen, akademis, ataupun masalah perasaan :)) Selalu ada masalah, karena memang ia bagian dari kehidupan itu sendiri. It depends, bagaimana kita menghadapinya. Mau menyerah atau hadapi? Itu pilihan. Tapi ingat, everyone has their own life’s problem. Pilihannya, hadapi atau menyerah. Hadapi, maka level kekuatan dan kesabaranmu diuji, dan begitu masalah selesai maka kesabaran dan kekuatanmu akan naik tingkat 1 level dari sebelumnya. Menyerah pun pilihan. Tapi ingat, masalah akan datang kembali. Dan tidak semua orang memilih untuk menyerah, apa mau tertinggal di level yang sama, sedangkan yang lain memilih untuk naik level 1 tingkat?
Tahun-tahun
selanjutnya di Surabaya; terasa begitu cepat. hari-hariku dipenuhi dengan
praktikum dan tugas. Datang ke kampus lebih awal dibandingkan matahari, pulang pun matahari sudah
berganti tugas dengan bulan jadi makanan sehari-hari. Mulai keliatan ego asli masing masing atau bahkan egonya sudah hilang. Di
tengah kehectican tugas yang seabrek,
di tambah belum sempat sarapan, emosi yang sulit terkontrol itu wajar, di
antara kami. Pintar-pintar saja membawa diri. Di tahun terakhir pula, beberapa
yang jauh mendekat, pun yang dekat menjauh. Pola pikir berubah, cara menghadapi
masalah berubah, pun gaya hidup. Semua akan terseleksi dengan sendirinya. Bukan, bukan kita yang berubah, kita hanya mengadjust diri
kita terhadap lingkungan sekitar kita.
Prinsip yan dianut adalah work hard play hard,
aku dan beberapa yang lainnya pun tidak jarang keluar dari kehidupan kampus.
Menonton film di tengah-tengah jurnal yg seabrek, mendatangi konser penyanyi favorit di sela-sela diskusi, pergi
wisata alam di sempitnya waktu bikin sediaan semisolida, berbelanja, bahkan hahahihi aja di kosan ataupun di tampat
penyetan langganan sudah meringankan tekanan di kepala, bahagia sekali rasanya.
Lima tahun di surabaya, Tidak akan cukup rasanya bila ditulis semua. Terlalu banyak pelajaran yang didapati, terlalu banyak kebodohan yang dapat ditertawai, terlalu banyak hal kecil yang dapat direnungi, terlalu banyak tempat yang dapat membangkitkan memori, dan terlalu banyak kisah manis yang dapat di resapi.
Lima tahun di surabaya, Tidak akan cukup rasanya bila ditulis semua. Terlalu banyak pelajaran yang didapati, terlalu banyak kebodohan yang dapat ditertawai, terlalu banyak hal kecil yang dapat direnungi, terlalu banyak tempat yang dapat membangkitkan memori, dan terlalu banyak kisah manis yang dapat di resapi.
Terima kasih Surabaya, telah kubiarkan aku mencicipi bagaimana kerasnya
kehidupan di sana, walaupun tidak sedikit pula yang berhati peri,
menyenangkan hati, dan memberi inspirasi.
Bau kenangan yang menguar di setiap sudut kotanya,
seolah mensugesti otak untuk memutarnya kembali. Kalau diijinkan, bolehkan
menetap lagi nanti, barang dua atau tiga tahun lagi? Ditulis 4 Oktober 2016
Jumat, 15 April 2016
Beruntung di Kota Malang
Halo (again)
Malang!
Iya, gua disini lagi. Tapi
dengan keadaan yang berbeda, gua sekarang udah sarjana. S. Farm, Sarjana
Farmasi yang sering banget dipelesetin jadi sarjana farm(ville), peternakan lah
apalah…. Selama di Malang, jalan-jalan, ditambah Malang lagi ujan-ujannya, jadi
kayak ingatan gue keputer lagi gitu, hehehe. Ingatan gua langsung kayak
langsung menembus waktu ke 4 sampai 5 tahun yang lalu. Saat pertama kalinya gua
merantau yang jauhnya sampai beda pulau meeenn sama orang tua gua, waktu itu
umur gua 17 tahun. Cewe sama temen-temen gua juga, gak ada yang cowok, dan merantau
di kota gak ada yang lu kenal dan sedikit pun lu gak tau tentang kota itu. Lu
kangen sama ortu juga gabisa langsung temu gitu aja, mesti nyebrangin Laut Jawa
banget.
Kebetulan kosan gua sekarang gak jauh letaknya sama
kosan gua dulu pas jaman-jaman nyari tempat kuliahan, pas bimbel GO buat SBMPTN
(soalnya dulu Bontang belum ada). Sengaja gua muter-muter sendiri di Malang
naik motor, gua muter muter sambil sedikit nostalgia. Ada kosan gua yang dulu buset ternyata serem
amat yak, gelap. Kosan gua, ibu
kosnya baik banget, begitu pula dengan mbak Tik yang tiap hari masakin kita,
yang mau bikinin apa aja yang kita minta kecuali kalo udah ribet banget baru
mbak Tik gak mau hehehe. Di depannya ada warung nasi
tempat gua pertama kali makan siang pas pertama kali nyampe malang dulu sama
ira, jalanan yang mau ke tempat bimbel gue susurin, masih kayak dulu, pohonnya
rindang, besar dan tinggi, di pinggir jalannya banyak mas mas yang jualan cilok,
crepes, banyak pokoknya. Indomaret yang jadi tempat belanja gua dulu, masih
ada. Jalan tikungan tajam di Jalan Pattimura. Soto ambengan yang dari dulu
sepi, sekarang pun masih. Gua ingat itu jalan dulu sering gua lewatin sama irak
sama anak anak kosan lain, sambil becanda, alay, jalanan itu juga jadi saksi
gua pernah sambil nelfon papah sambil nangis, karena masih bingung milih
jurusan apa di saat-saat terakhir. Tentu aja papah gak tau kalo gua sampai nangis. Gua juga sempat
liat tempat biasanya kita nyetopin angkot buat nyari hiburan ke Matos tiap hari
Minggu. Harus buru-buru pulang jam delapan malam karena kalo ngga bakalan susah
dapet angkot. Gua liat Mekdi trus gua ingat sempet nangis malem malem di pinggir
jalan sebrang mekdi karena H-1 pulang, dompet gua beserta isi-isinya ilang. Gua juga liat tempat bimbel gua, GO Pattimura,
tempat tiap hari gua ke tempat itu, sampe bener bener jenuh dan mabok banget
gua kesana, tapi gua paksa. Disitu gua juga istirahat jajan seadanya, makan
cilok yang meler-meler gitu. Gua ingat betapa kerasnya
perjuangan gua buat dapetin satu bangku aja di farmasi unair, walaupun awalnya
gak 100 persen gua pingin. Gua ingat
banget betapa istiqomahnya gua, ibadah gua, waktu itu. Sampe gua ngebelain buat
merantau kesini, yang merupakan sebuah langkah besar suatu keputusan,
seenggaknya bagi gua, anak kemarin sore yang baru kelar buat SIM. Seneng ngingatnya karena keringat gua
akhirnya berbuah manis.
Gua jadi berfikir ulang, kalo
memang semua skenario ini udah disiapkan Allah buat gua, dikemas dengan semanis
ini sampai kadang suka nangis, bersyukur karena gua ngerasa Allah sesayang itu
sama gua. Alasan-alasan kenapa gua gak disini apa disitu, kenapa gua dari dulu
nggak begini, gua bersyukur sama apa yang gua dapet sekarang, bersyukur sama
orang orang yang masih betah stay ama gua dari d ulu sampesekarang, atas semua yang tidak gua
inginkan, gua rasa akhirnya gua tau karena memang jawabannya itulah yang paling
baik buat gua.
ditulis di Malang, 3 April 2016
Full of Blessed
Ajeng Janani
Langganan:
Postingan (Atom)