5 tahun itu terasa cepat sekali berlalu, ya... pikirku
sambil memandang padatnya jalan raya ke luar kaca mobil. Kulihat kebelakang
melalui kaca spion mobil. Barang-barangku memenuhi pick-up yang aku naiki. Kamarku kosong, tiada yang tersisa. Entah
mengapa berat sekali rasanya untuk percaya kalau hari ini adalah hari terakhir
aku tinggal di sini....
Di
tahun awal kuliah, pertama kali keluar dari pulau
Kalimantan dan stau, tampil apa adanya, dengan logat bontangku yang kental, aku bodo
amat. Memakai baju yang sudah kuanggap cukup gaul, di kala itu, setidaknya
sudah gaul di Kota domisiliku tercinta, Bontang. Menjalankan praktikum yang bagiku amat susah. Bagaimana tidak? Nama-nama
alatnya saja aku baru tahu pada saat akan mulai praktikum. Berbeda pehitungan 0,01 saja nilai bisa beda jauh. Ya memang harus begitu, di masa depan tanggung jawab kami adalah sebuah NYAWA. Neraka sekali
farmasi Unair bagiku. Selain itu, harus ada skill yang dimiliki, bila kamu menjadi anak rantau, yaitu “skill” mengontrol keuangan,
mulai memilah mana yang butuh dan ingin, mulai menganut prinsip, kalo ada yang
lebih murah? Kenapa engga :))
Hari demi hari, aku belajar banyak. Apa yang kita lihat baik, belum tentu semanis rupanya. Yang terlihat buruk, belum tentu jahat padamu. Hanya Berujung kecewa, bila awalnya kau berharap pada manusia, pasrahkan semua pada Nya. Setidaknya bila kau pasrah padaNya, kau tidak akan kecewa seperti berharap pada manusia yang hatinya gampang terbolak-balik. Karena kau tau, DIA tau segalanya, termasuk yang terbaik bagimu. Diharuskan menjadi kuat untuk menghadapi masalah tentang perkuliahan, dosen, akademis, ataupun masalah perasaan :)) Selalu ada masalah, karena memang ia bagian dari kehidupan itu sendiri. It depends, bagaimana kita menghadapinya. Mau menyerah atau hadapi? Itu pilihan. Tapi ingat, everyone has their own life’s problem. Pilihannya, hadapi atau menyerah. Hadapi, maka level kekuatan dan kesabaranmu diuji, dan begitu masalah selesai maka kesabaran dan kekuatanmu akan naik tingkat 1 level dari sebelumnya. Menyerah pun pilihan. Tapi ingat, masalah akan datang kembali. Dan tidak semua orang memilih untuk menyerah, apa mau tertinggal di level yang sama, sedangkan yang lain memilih untuk naik level 1 tingkat?
Tahun-tahun
selanjutnya di Surabaya; terasa begitu cepat. hari-hariku dipenuhi dengan
praktikum dan tugas. Datang ke kampus lebih awal dibandingkan matahari, pulang pun matahari sudah
berganti tugas dengan bulan jadi makanan sehari-hari. Mulai keliatan ego asli masing masing atau bahkan egonya sudah hilang. Di
tengah kehectican tugas yang seabrek,
di tambah belum sempat sarapan, emosi yang sulit terkontrol itu wajar, di
antara kami. Pintar-pintar saja membawa diri. Di tahun terakhir pula, beberapa
yang jauh mendekat, pun yang dekat menjauh. Pola pikir berubah, cara menghadapi
masalah berubah, pun gaya hidup. Semua akan terseleksi dengan sendirinya. Bukan, bukan kita yang berubah, kita hanya mengadjust diri
kita terhadap lingkungan sekitar kita.
Prinsip yan dianut adalah work hard play hard,
aku dan beberapa yang lainnya pun tidak jarang keluar dari kehidupan kampus.
Menonton film di tengah-tengah jurnal yg seabrek, mendatangi konser penyanyi favorit di sela-sela diskusi, pergi
wisata alam di sempitnya waktu bikin sediaan semisolida, berbelanja, bahkan hahahihi aja di kosan ataupun di tampat
penyetan langganan sudah meringankan tekanan di kepala, bahagia sekali rasanya.
Lima tahun di surabaya, Tidak akan cukup rasanya bila ditulis semua. Terlalu banyak pelajaran yang didapati, terlalu banyak kebodohan yang dapat ditertawai, terlalu banyak hal kecil yang dapat direnungi, terlalu banyak tempat yang dapat membangkitkan memori, dan terlalu banyak kisah manis yang dapat di resapi.
Lima tahun di surabaya, Tidak akan cukup rasanya bila ditulis semua. Terlalu banyak pelajaran yang didapati, terlalu banyak kebodohan yang dapat ditertawai, terlalu banyak hal kecil yang dapat direnungi, terlalu banyak tempat yang dapat membangkitkan memori, dan terlalu banyak kisah manis yang dapat di resapi.
Terima kasih Surabaya, telah kubiarkan aku mencicipi bagaimana kerasnya
kehidupan di sana, walaupun tidak sedikit pula yang berhati peri,
menyenangkan hati, dan memberi inspirasi.
Bau kenangan yang menguar di setiap sudut kotanya,
seolah mensugesti otak untuk memutarnya kembali. Kalau diijinkan, bolehkan
menetap lagi nanti, barang dua atau tiga tahun lagi? Ditulis 4 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar